Woman as a Hand of Culture

Yuka··6 min read
Woman as a Hand of Culture

You'll find them everywhere in Bali. At the beautiful temples, outside people's homes, at the foot of statues, wrapped around the great trees, tucked into every corner of the island. A simple basket woven from coconut leaves, decorated with colorful flowers, completed with the smell of incense smoke rising from it. This is canang sari - an offering that has become not just the icon of Bali, but its very root.

When I was small I kept asking myself - why am I doing this? That question would come whenever I was tired from making them, tired from carrying them out to offer. I asked my mother: why do we have to make canang every single day?

She answered simply: "NAK MULE KETO."

It's just how it is. That's all she said. It confused me, but I kept doing it anyway, the question still sitting in my head. At one point I remember thinking - why is finding GOD so exhausting? A simple thought that comes when you're doing something and you have no idea why.

There's something particular about being a woman in Bali - the scars on your fingers from weaving canang sari are a kind of proof. Proof that you are a good woman, someone your family and community can rely on. And of course I have plenty of those scars. I've spent my life holding a knife, coconut leaves, flowers. Is that enough to call myself a good woman?

The stage I love most is metanding - arranging the flowers on top. I think everyone would love it. The way you place all those colors together carefully, beautifully. But it's not just color and fragrance inside it. There's a lesson hidden there too. Canang sari shows us what diversity really means - that beauty is created through the coming together of many colors, many elements.

Now when I look at canang sari, I see my ancestors living again through the breaths they left behind in the traditions and culture of this land. I see that everything they made carried meaning - a philosophy of life that runs so deep.

And NAK MULE KETO - I understand it more clearly now. There weren't many questions the elders could fully answer. They would say: just do it, this is tradition. Not because they didn't know, but also because knowledge then was knowledge kept close, passed through experience rather than explanation. "Nak mule keto" means: you have to live it, learn it, feel it yourself to find what's waiting inside it.

I understand now that meaning is something we find ourselves. They gave us the container, the symbol - and then they let us make sense of it on our own. So from one simple thing, many meanings can emerge. And from those meanings, we can see how we look at life itself.

Beautiful is the only word I have right now, looking at canang sari in every corner of Bali. A simple symbol carrying millions of meanings, offered as the highest symbol that exists on this earth - gratitude.

As if the ancestors are saying: "when you look at canang sari, you're not just seeing flowers in a simple basket. You're seeing your own soul, in how you understand it." Some people will find it strange. Beautiful for its colors, its fragrance, its shape. Others will see life inside it. And none of that is wrong - it's all just the journey from not knowing to knowing.

I am going back to my roots. Tracing the footsteps of my ancestors again, to find my source. Myself.

I am learning to give meaning to my life. And what I'm doing right now - I'm understanding it through a simple symbol.


PEREMPUAN SEBAGAI PENJAGA TRADISI

Sebuah persembahan yang akan banyak kita temukan di Bali. Dia ada di pura yang cantik, di rumah rumah warga, di patung patung yang indah, di pohon pohon besar, di setiap sudut bali. Sebuah wadah sederhana yang terbuat dari daun kelapa di hiasi dengan bunga warna warni yang indah. Dan di lengkapi asap dupa yang wangi. Begitulah canang sari menjadi ikon Bali bahkan menjadi akar dari pulau ini.

Aku kecil mempertanyakan untuk apa aku melakukan itu? Pertanyaan itu muncul saat aku merasa lelah saat mempersiapkannya hingga menghaturkannya. Aku bertanya pada ibuku, kenapa kita harus membuat canang setiap hari? Ibuku hanya menjawab dengan jawaban yang sederhana "NAK MULE KETO". Jawaban yang membuatku bingung, namun aku tetap melakukannya dengan pertanyaan yang masih tetap ada di kepalaku. Satu momen aku sampai merasa, kenapa mencari TUHAN begitu melelahkan? Pikiran sederhana yang muncul saat kamu melakukan sesuatu namun kamu tak tau alasan kenapa kamu melakukan itu.

Ada hal unik untuk kami para perempuan di bali, saat kamu memiliki banyak bekas luka pada jarimu dari hasil membuat canang sari itulah simbul dari bukti bahwa kamu perempuan yang baik dan mampu di andalkan dalam keluarga dan sosial. Dan tentu saja aku memiliki tumpukan bekas luka itu. Aku menghabiskan hidupku dengan memegang pisau, daun kelapa dan bunga. Apakah itu cukup untuk menyatakan aku perempuan yang baik?

Tahapan yang sangat aku sukai adalah metanding (merangkai bunga di atasnya), aku rasa semua orang akan menyukainya. Bagaimana bunga warna warni kita tata dengan cantik. Tak hanya warna dan bunga yang harum di dalamnya ada pelajaran yang indah yang tersimpan. Canang sari menggambarkan keberagaman, dimana keindahan tercipta karena penyatuan banyak warna di berbagai elemen.

Sekarang ketika aku melihat canang sari aku melihat para leluhurku hidup kembali dengan nafas nafas mereka yang mereka tinggalkan dalam tradisi dan budaya di tanah ini. Aku melihat setiap hal yang beliau buat memiliki makna dan pilosopi kehidupan yang begitu dalam.

Dan makna NAK MULE KETO aku memaknainya dengan lebih jernih, tak banyak pertanyaan yang tetua dulu akan bisa mereka jawab. Mereka akan mengatakan lakukan saja, ini tradisi. Bukan karena mereka tak tahu dan juga karena ilmu pengetahuan dulu adalah ilmu di rahasiakan. Kata "nak mule keto" bermakna kita harus mengalami, belajar dan merasakan sendiri untuk memetik mana di baliknya.

Aku memahami bahwa makna itu kita yang cari dan alami sendiri, mereka memberikan wadah atau simbul dan mereka membiarkan kita memaknai sendiri, maka akan banyak muncul makna di balik 1 hal sederhana, dari makna itu kita bisa tau bagaimana kita melihat kehidupan itu sendiri.

Indah hanya kata itu yang bisa aku ungkapkan saat ini saat melihat canang sari di setiap sudut bali. Simbul sederhana yang memiliki jutaan makna, yang di haturkan dengan simbul paling tertinggi di muka bumi bermakna "rasa syukur".

Seolah para leluhur mengatakan "ketika kamu melihat canang sari, yang kamu lihat bukan hanya bunga berwadah sederhana tapi kamu sedang melihat jiwamu dari bagaimana kamu memaknainya". Sebagian orang akan merasa itu asing, indah karena warnanya, wanginya, bentuknya, atau kamu akan melihat kehidupan didalamnya. Dan semua itu tidak salah, itu adalah perjalanan dari tidak tahu menjadi tahu.

Aku sedang kembali ke akar, kembali lagi menyusuri tapak kaki leluhurku untuk mengenali lagi sumberku, diriku. Aku sedang belajar memaknai hidupku dan yang sedang aku lakukan aku memaknainya dengan simbul sederhana "CANANG SARI".

Experience It Yourself

Join us in the food forest.

Book a Class