My mother is a simple woman — so pure and full of love. One thing I always noticed she truly loved was money. Hehe. But not money to be spent — rather, how much she could save. And it was from that quiet habit that we were eventually able to buy a small piece of land and build a simple home.
One thing that has always fascinated me about her — she loves animals deeply. Not just a fondness, but as though her soul is connected to theirs. All kinds of creatures feel safe and at ease in her hands. Many small lives have been saved by her warmth.
If an animal was sick, she would care for it the same way she cared for me — feeding it by hand, even giving it the same medicine she would give a person. I know that may not always be the right thing to do. But I believe it was never really the medicine that healed them. It was the love and the sincere presence my mother gave.
Her warm hands once guided a paralyzed rooster back to life. She held his wings the way she once held my hands when she was teaching me to walk. Every day she fed him and taught him to walk again. And so time passed — until that rooster went on to win a cockfight at one of the temples during ceremony.
I will never forget that story. That love and sincerity can heal even the most fragile and helpless of creatures.
She was never academically educated. Not once did she help me with my homework. There was a time I looked down on her, comparing her to other people's mothers. But now I admire her — because I know what she carries runs far deeper than anything a school could teach. She has an honesty and a purity of heart that I myself am still far from reaching. Her life is a pure offering, full of love for her family and her children.
And to this day, she still loves to save money. She will smile when I give her a little — I always hope she will spend it on something for herself. But what happens instead is that she puts it away for the cost of her own cremation(ngaben).
She is my mother — whose heart is beautiful and full of love.
Versi Bahasa Indonesia
Tangan yang Hangat
Ibuku adalah perempuan yang sederhana — begitu polos dan penuh cinta. Satu hal yang aku lihat sangat dia sukai adalah uang. Hehe. Tapi bukan uang untuk dibelanjakan — melainkan berapa banyak yang bisa dia simpan. Dari kebiasaan itulah kami akhirnya mampu membeli sepetak tanah dan membangun rumah sederhana.
Satu hal yang begitu menarik dari beliau — dia sangat mencintai binatang. Bukan sekadar suka, tapi seolah jiwanya terhubung dengan mereka. Berbagai binatang merasa begitu nyaman dan aman di tangannya. Banyak makhluk kecil yang selamat di tangan hangatnya.
Jika ada binatang yang sakit, dia akan memperlakukannya sama seperti merawatku — menyuapinya, bahkan memberinya obat yang sama. Aku tahu mungkin itu tidak selalu benar, memberi obat manusia pada binatang. Namun aku rasa bukan obat yang menyembuhkannya — melainkan cinta dan kehadiran tulus yang ibuku berikan.
Tangan hangatnya suatu hari menuntun seekor ayam jantan yang lumpuh. Dia memegang sayap ayam itu seperti memegang tanganku saat mengajariku berjalan. Setiap hari beliau menyuapinya dan mengajarinya berjalan kembali. Dan begitulah waktu berlalu — hingga ayam jantan itu kini telah menang dalam pertarungan sabung ayam di salah satu pura saat upacara berlangsung.
Aku tidak akan pernah melupakan cerita itu. Bahwa cinta dan ketulusan mampu menyembuhkan makhluk yang lemah dan tak berdaya.
Beliau bukan orang yang pintar secara akademis. Tak sekalipun dia membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Aku pernah memandangnya rendah ketika membandingkannya dengan ibu orang lain. Namun sekarang aku mengaguminya — karena aku tahu yang dia miliki jauh lebih dalam. Dia memiliki kejujuran dan kemurnian hati yang bahkan aku sendiri masih jauh dari apa yang beliau miliki. Hidupnya adalah persembahan yang murni, penuh cinta kasih untuk keluarga dan anak-anaknya.
Dan hingga saat ini dia masih sangat suka menyimpan uang. Dia akan tersenyum saat aku memberikan sedikit uang — aku berharap dia membelikan sesuatu untuk dirinya sendiri. Namun yang terjadi, dia akan menyimpannya untuk biaya kremasinya(ngaben).
Dialah ibuku — yang hatinya indah dan penuh cinta.