Water, for the Balinese, is never just water. It is life. It is purification. It is balance. Long before there were pipes and taps and tiled bathrooms, the river was where life happened — and where we found each other.
I remember it clearly. Every afternoon, my friends and I would walk to the river to bathe, to wash our clothes, to collect water for the day ahead. About twenty minutes on foot, carrying buckets filled with dirty laundry and bathing things, walking through rice fields so green they almost hurt your eyes. We walked with stories and laughter the whole way there.
The river was wide and clear — only murky when the rains came. Beside it, a spring fed a natural shower, cool and constant. We would bathe together, scrubbing each other's backs with smooth stones the way people did before soap came along. We washed our clothes side by side, talking, laughing, singing songs that echoed back and forth across the water. Children ran and laughed around their mothers. An old grandmother carried a small clay pot to bring water home, a towel folded on her head.
We were never truly alone. Not even while bathing. Everything was done together — always with stories, always with laughter.
Then, one by one, people began to build bathrooms inside their homes. I still remember the feeling of stepping into my friend's bathroom for the first time — surrounded by cool tiles, a blue water basin in the corner. It felt like luxury. It felt like progress. I was proud just to be allowed inside it.
And slowly, quietly, people stopped going to the river.
It was more efficient, they said. It saved time.
But without realizing it, we began to isolate ourselves. We put distance between ourselves and each other. We let that bathroom become a kind of prison — one we built with our own hands and called an upgrade.
What once felt natural — bathing together, same gender, no shame, no discomfort — became something private, something guarded. The conversations in the middle of doing laundry disappeared. The songs that used to answer each other across the water went silent. We became busy inside our own solitude, mistaking it for luxury, not noticing the deep loneliness it carried.
Sometimes now I want so badly to walk those kilometers again. To look out over the green rice fields the whole way there. To hold a friend's hand jumping from one stone to another. To stop at a small warung on the way home and buy something small to eat. To feel what I felt then — alive, at peace, enough. The feeling of abundance that comes only when you realize nature has already provided everything you need.
No amount of time saved in a tiled bathroom can give you that.
That feeling of being alive. That feeling of peace. That feeling of having enough.
We traded it away so quietly. And most of us never even noticed it was gone.
That is how I have learned to live with change — not by rejecting it, not by judging it as good or bad. But by noticing it. By knowing the way back when the longing comes. And by never letting myself grow arrogant in the name of progress — because every step forward always asks for something in return. And we owe it to ourselves to be honest about what we have paid.
Versi Bahasa Indonesia
Sungai yang Kita Tinggalkan
Air, bagi orang Bali, tidak pernah sekadar air. Ia adalah kehidupan. Ia adalah pembersihan. Ia adalah keseimbangan. Jauh sebelum ada pipa, keran, dan kamar mandi berkeramik, sungai adalah tempat kehidupan terjadi — dan tempat kita menemukan satu sama lain.
Aku masih mengingatnya dengan jelas. Setiap sore, aku dan teman-temanku berjalan ke sungai untuk mandi, mencuci pakaian, dan mengambil air untuk kebutuhan hari itu. Sekitar dua puluh menit berjalan kaki, membawa ember penuh pakaian kotor dan perlengkapan mandi, melewati sawah yang hijau hingga terasa menyakiti mata. Kami berjalan dengan cerita dan tawa sepanjang jalan.
Sungainya lebar dan jernih — hanya keruh saat hujan datang. Di sampingnya, mata air mengalir menjadi pancuran alami yang sejuk dan terus mengalir. Kami mandi bersama, saling menggosok punggung dengan batu halus seperti cara orang-orang dulu sebelum sabun ada. Kami mencuci pakaian berdampingan, mengobrol, tertawa, menyanyikan lagu yang saling bersahutan di atas air. Anak-anak berlarian dan tertawa di sekitar ibunya. Seorang nenek tua membawa kendi kecil untuk dibawa pulang, handuk terlipat di atas kepalanya.
Kami tidak pernah benar-benar sendiri. Bahkan saat mandi sekalipun. Semua dilakukan bersama — selalu dengan cerita, selalu dengan tawa.
Lalu satu per satu, orang-orang mulai membangun kamar mandi di dalam rumah mereka. Aku masih ingat perasaan pertama kali masuk ke kamar mandi temanku — dikelilingi keramik dingin, bak mandi berwarna biru di sudut ruangan. Rasanya seperti kemewahan. Rasanya seperti kemajuan. Aku bangga hanya karena diizinkan masuk ke dalamnya.
Dan perlahan, diam-diam, orang-orang berhenti pergi ke sungai.
Lebih efisien, kata mereka. Menghemat waktu.
Namun tanpa disadari, kita mulai mengisolasi diri. Kita memberi jarak kepada satu sama lain. Kita membiarkan kamar mandi itu menjadi semacam penjara — yang kita bangun dengan tangan kita sendiri dan kita sebut kemajuan.
Yang dulu terasa alami — mandi bersama, sesama gender, tanpa rasa malu, tanpa rasa tidak nyaman — berubah menjadi sesuatu yang privat, sesuatu yang dijaga. Obrolan di tengah-tengah mencuci pakaian hilang. Nyanyian yang dulu saling bersahutan di atas air pun lenyap. Kita sibuk sendiri dalam kesunyian kita, mengiranya kemewahan, tanpa menyadari betapa dalamnya rasa sepi yang ia bawa.
Kadang sekarang aku sangat ingin kembali berjalan kilometer demi kilometer itu. Memandang hamparan sawah hijau sepanjang jalan. Memegang tangan teman saat melompat dari satu batu ke batu lain. Mampir ke warung kecil dalam perjalanan pulang dan membeli sesuatu yang kecil untuk dimakan. Merasakan apa yang aku rasakan dulu — hidup, damai, cukup. Rasa keberlimpahan yang hanya datang saat kamu menyadari alam sudah menyediakan segalanya yang kamu butuhkan.
Tidak ada waktu yang tersimpan di kamar mandi berkeramik yang bisa memberikanmu rasa itu.
Rasa hidup itu. Rasa damai itu. Rasa cukup itu.
Kita menukarnya begitu diam-diam. Dan kebanyakan dari kita bahkan tidak pernah menyadari bahwa ia telah pergi.
Begitulah aku belajar hidup bersama perubahan — bukan dengan menolaknya, bukan dengan menghakiminya baik atau buruk. Tapi dengan menyadarinya. Dengan tahu jalan pulang saat rindu datang. Dan dengan tidak membiarkan diri merasa sombong atas nama kemajuan — karena setiap langkah maju selalu meminta sesuatu sebagai bayarannya. Dan kita berutang kejujuran pada diri sendiri untuk mengakui apa yang telah kita bayarkan.