When I finished junior high school, I was faced with a reality I wasn't ready for — I couldn't continue my education. My parents couldn't afford the enrollment fees for senior high school. They were fighting for something more urgent: buying a piece of land, a place for us to call home.
Since fourth grade, I had already been paying for my own schooling — working part-time until late at night, that was how I spent my school years. But senior high school required long hours of attendance. I could no longer divide my time the way I had before.
With a heavy heart, I told myself: fine. I will not continue school.
And that became the longest punishment I ever carried — one I gave to myself.
I was ashamed. I felt I had no right to stand among the people around me. My confidence broke slowly, over a long period of time. And what hurt the most — I dreamed about being in school for almost a full year. Every night. Those dreams proved how desperately I wanted it. But circumstances forced me to push that wanting down, deep inside, where I hoped it would stop hurting.
Time passed. I grew into someone who only knew how to accept things as they were. Someone who never dared to dream big. Life felt like punishment for some bad karma I must have carried from another time. I walked through my days with my head always down — afraid of what people would think if they found out I hadn't even finished high school. I avoided conversations about education. I saw myself as lesser. I felt trapped, certain this was the fate I would carry until I died.
Then one day, while working as a waitress at a restaurant,i met one guy, we were talking about school. I said it was probably too late for me — I was almost thirty years old. And he looked at me with eyes full of fire and said:
"It's never too late. You deserve it if you want it."
That sentence woke something that had been sleeping inside me for a very long time. I began searching for institutions that could help with continuing education. And I made a decision — I was going to go back to school.
Two years later, I graduated with results I was proud of. But what healed me more than any grade was this: every time I sat in that classroom and learned, the part of my soul that had always loved school smiled again. Slowly I healed. Slowly I found my confidence returning. Slowly I began to dare to dream other things in life.
The diploma I held in my hands felt like medicine I had been searching for for decades.
Today, I always say this to the young people I have trained, the friends I taught during my years in the restaurant: study seriously. Education is something of real value. You cannot turn back time — all you can do is give it your best, or live with the regret of having wasted the chance you were given.
I use myself as the example — someone who wanted so badly to learn, but whose dreams were silenced by circumstance. Those who are in school today have something I once didn't. So to anyone who is still studying, still sitting in a classroom, still holding a textbook in their hands —
Please honor that chance. With everything you have.
Not for anyone else.
But for yourself.
Versi Bahasa Indonesia
Obat yang Puluhan Tahun Kucari
Saat aku lulus SMP, aku dihadapkan pada kenyataan yang berat — aku tidak bisa melanjutkan sekolah. Orangtuaku tidak mampu membayar biaya masuk SMA yang cukup besar saat itu. Mereka sedang berjuang untuk hal yang lebih mendasar: membeli rumah, tempat kami berteduh.
Sejak kelas empat SD hingga SMP, aku sudah membiayai sekolahku sendiri — bekerja paruh waktu hingga malam hari, begitulah masa sekolahku kuhabiskan. Namun SMA membutuhkan jam sekolah yang panjang. Aku tidak bisa lagi membagi waktuku.
Dengan hati yang berat, aku mengatakan pada diriku sendiri: baiklah, aku tidak akan melanjutkan sekolah.
Dan itulah hukuman terpanjang yang pernah aku pikul untuk diriku sendiri.
Aku malu. Aku merasa tidak pantas berada di sekitar orang-orang di lingkunganku. Kepercayaan diriku hancur perlahan — dalam waktu yang cukup lama. Bahkan yang paling menyakitkan, aku bermimpi tentang sekolah selama hampir satu tahun penuh. Setiap malam. Mimpi itu membuktikan betapa inginnya aku — namun keadaan memaksaku untuk menekannya dalam-dalam.
Waktu berjalan. Aku tumbuh menjadi seseorang yang hanya bisa menerima keadaan apa adanya. Seseorang yang tidak pernah berani bermimpi besar. Hidup terasa seperti hukuman dari karma buruk yang mungkin pernah aku lakukan di masa lalu. Aku menjalani hari-hari dengan kepala selalu merunduk — takut akan pendapat orang lain jika mereka tahu aku bahkan tidak lulus SMA. Menghindari obrolan tentang akademik. Melihat diriku begitu rendah. Merasa sudah terjebak, dan inilah takdir yang akan aku bawa sampai mati.
Hingga suatu hari, saat aku bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran, aku bertemu pelanggan pria dan kami mengobrol tentang sekolah. Aku mengatakan bahwa sepertinya sudah terlambat — usiaku sudah hampir tiga puluh tahun. Dan dia, dengan mata yang penuh api, mengatakan padaku:
"Tak pernah ada yang terlambat. Kamu berhak mendapatkan itu jika kamu menginginkannya."
Kalimat itu membangunkan sesuatu yang sudah lama tidur dalam diriku. Aku mulai mencari lembaga yang bisa membantu pendidikan lanjutan. Dan aku memutuskan — aku akan sekolah lagi.
Dua tahun kemudian, aku lulus dengan hasil yang cukup baik. Tapi yang lebih menyembuhkan dari nilai apapun adalah ini: setiap kali aku duduk di kelas dan belajar, jiwaku yang begitu mencintai sekolah kembali tersenyum. Perlahan aku sembuh. Perlahan aku kembali percaya diri. Perlahan aku mulai berani bermimpi hal-hal lain dalam hidup.
Ijazah yang aku terima di tanganku terasa seperti obat yang puluhan tahun aku cari.
Hari ini, aku selalu berpesan kepada anak-anak yang pernah aku latih, teman-teman yang sempat aku ajari saat masih bekerja di restoran: belajarlah sungguh-sungguh. Sekolah adalah ilmu yang bernilai. Kamu tidak bisa memutar waktu — yang bisa kamu lakukan adalah melakukan yang terbaik, atau menyesalinya di kemudian hari.
Aku menjadikan diriku sendiri sebagai contoh — seseorang yang begitu ingin bersekolah namun keadaan membungkam mimpinya. Mereka yang sedang bersekolah hari ini memiliki kesempatan yang dulu tidak aku miliki. Maka aku berharap siapapun yang sedang belajar untuk menghargai kesempatan itu dengan sepenuh hati.
Bukan untuk siapapun.
Tapi untuk diri sendiri.