The Dusty Hands

Yuka··6 min read

There was a time when the loudest sound in the afternoon was the laughter of children.

After school, we would eat quickly — barely finishing our rice — and run. We already knew the places. Under the big tree outside the pura dalem, that was where we gathered. No one had to announce it. No one had to send a message. We just knew. And we came, all of us, together.

The game was bola kasti. Our ball was made by hand — young coconut leaves woven together, a small stone tucked inside for weight. No shop sold it. No factory made it. Our hands made it, from whatever the earth around us offered.

We divided into two groups and the game began. Running, dodging, laughing, screaming. If the ball hit you, you became the one who chased. The ground was dry and dusty. Our faces were wet with sweat. Our hands were dirty. Our smiles were wide.

That was enough. That was everything.

I remember it so clearly — not just as a memory in my mind, but as a feeling still living in my body. The freedom of running without knowing exactly where your feet would land. The joy of belonging to a group that needed you to show up, in person, with your whole self. Parents trusted us to go. Trusted us to explore. Trusted us to fall down and get back up again. They let us grow into free creatures — learning from life itself, finding our own meaning in the world.

Then I look at the streets today. The courtyards outside the temples. The open fields.

No footprints running in the dust. No echoes of laughter bouncing between the trees. No smell of children's sweat drifting through the late afternoon air. The ground is clean and undisturbed.

And I wonder — what are children doing now? How do they play? How do they laugh? How do they see the world?

A small glowing screen fits in the palm of their hand and gives them everything, instantly. No need to find it in a tree. No need to build it. No need to run. No need to get dirty. No need to be tired. No need to sweat. Everything happens behind a little screen they carry everywhere.

I don't judge them. I find myself asking instead — do they even have a choice? Did anyone show them what it feels like to play in the real world? To be dirty and sweaty and exhausted and completely, honestly alive?

Maybe they would love it. Running after friends under a big tree, a handmade ball flying through the air, falling down on dusty ground and standing back up again — laughing, always laughing.

Or maybe no one has ever given them the chance to find out.

And maybe that is exactly why places like the forest still matter. Not to turn anyone into something they are not — but to give them one afternoon. One chance to feel the dirt under their fingernails, the wind against their skin, the joy of finding something real with their own two hands. Just once. So they know it exists. So they know they are allowed to want it.


Versi Bahasa Indonesia

Tangan yang Berdebu

Dulu, suara paling keras di sore hari adalah tawa anak-anak.

Sepulang sekolah, kami makan dengan cepat — hampir tidak sempat menghabiskan nasi — lalu berlari. Kami sudah tahu tempatnya. Di bawah pohon besar di luar pura dalem, di situlah kami berkumpul. Tidak perlu ada yang mengumumkan. Tidak perlu ada yang mengirim pesan. Kami hanya tahu. Dan kami datang, semua, bersama-sama.

Permainannya adalah bola kasti. Bolanya dibuat dengan tangan — daun kelapa muda dianyam bersama, sebuah batu kecil diselipkan di dalamnya sebagai pemberat. Tidak ada toko yang menjualnya. Tidak ada pabrik yang membuatnya. Tangan kami yang membuatnya, dari apapun yang bumi di sekitar kami sediakan.

Kami membagi diri menjadi dua kelompok dan permainan pun dimulai. Berlari, menghindar, tertawa, berteriak. Jika bola mengenaimu, kamu yang giliran mengejar. Tanahnya kering dan berdebu. Wajah kami basah oleh keringat. Tangan kami kotor. Senyum kami lebar.

Itu sudah cukup. Itu adalah segalanya.

Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas — bukan hanya sebagai kenangan di pikiran, tapi sebagai perasaan yang masih hidup di dalam tubuhku. Kebebasan berlari tanpa tahu persis di mana kakimu akan mendarat. Kegembiraan menjadi bagian dari kelompok yang membutuhkanmu untuk hadir, secara nyata, dengan seluruh dirimu. Orang tua mempercayai kami untuk pergi. Mempercayai kami untuk bereksplorasi. Mempercayai kami untuk jatuh dan berdiri lagi. Mereka membiarkan kami tumbuh menjadi makhluk yang bebas — belajar dari kehidupan itu sendiri, menemukan makna kami sendiri di dunia.

Lalu aku melihat jalanan hari ini. Halaman di luar pura. Lapangan terbuka.

Tidak ada jejak kaki berlarian di debu. Tidak ada gema tawa yang memantul di antara pepohonan. Tidak ada bau keringat anak-anak yang mengalir di udara sore. Tanahnya bersih dan tak terusik.

Dan aku bertanya-tanya — apa yang anak-anak lakukan sekarang? Bagaimana mereka bermain? Bagaimana mereka tertawa? Bagaimana mereka melihat kehidupan?

Sebuah layar kecil yang bercahaya muat di telapak tangan mereka dan memberikan segalanya, seketika. Tidak perlu mencarinya di pohon. Tidak perlu membuatnya. Tidak perlu berlari. Tidak perlu kotor. Tidak perlu lelah. Tidak perlu berkeringat. Semua terjadi di balik layar kecil yang mereka bawa ke mana-mana.

Aku tidak menghakimi mereka. Yang ada hanyalah pertanyaan — apakah mereka punya pilihan? Apakah ada yang pernah menunjukkan kepada mereka bagaimana rasanya bermain di dunia nyata? Kotor, berkeringat, kelelahan, dan benar-benar, sejujurnya, hidup?

Mungkin mereka akan menyukainya. Berlari mengejar teman di bawah pohon besar, bola buatan tangan melayang di udara, jatuh di tanah berdebu dan berdiri lagi — tertawa, selalu tertawa.

Atau mungkin tidak ada yang pernah memberi mereka kesempatan untuk mengetahuinya.

Dan mungkin itulah mengapa tempat seperti hutan masih penting. Bukan untuk mengubah siapapun menjadi sesuatu yang bukan dirinya — tapi untuk memberi mereka satu sore. Satu kesempatan untuk merasakan tanah di bawah kuku mereka, angin di kulit mereka, kegembiraan menemukan sesuatu yang nyata dengan dua tangan mereka sendiri. Hanya sekali. Agar mereka tahu bahwa itu ada. Agar mereka tahu mereka boleh menginginkannya.

Experience It Yourself

Join us in the food forest.

Plan a Private Food Forest Day