SAFE IN THE DARK
I still remember it clearly: the pitch-black road, and the warmth of my father’s hand holding mine. That hand was how I knew I was safe, how I knew the world would be alright. Together, we walked toward our neighbor's house to watch the world boxing championship, with nothing but a small flashlight to guide our way.
Technology like mobile phones? I had almost never touched one back then. I was only about eight or nine years old. Did I actually know anything about boxing at the time? Of course not. But just hearing the sound of that television made my eyes light up, as if it was the coolest thing in the world.
What I really enjoyed wasn't the boxing match itself, but the commercials that came on during the breaks. Food commercials, drinks, all kinds of things that left me staring in amazement. To me, it looked like a completely different world. So modern.
Even a lightbulb was high technology to me, because so much of my childhood was spent growing up without electricity. The only thing I was truly familiar with was the radio, a little wooden box that could make sounds, whether stories or songs. I thought it was the most advanced thing ever.
In those days, so many people would gather at the house of whichever neighbor owned a television to enjoy special events: boxing, football, or badminton. As a little kid, I didn't understand what was happening in the matches. But my memory recorded it. As I grew up, I remembered and began to understand how boxing and other sports worked, from the rules to how someone won.
I spent so much of my time with my father back then. We still watch sports together to this day, each choosing our own favorite. For boxing, I would pick my fighter based on the color of his shorts. For football, we both cheered for the Indonesian national team.
Looking back now, those memories are beautiful. The way people gathered and watched together. The kind-hearted host who opened their doors for all of us. The people who came with so much excitement, sitting neatly together. How we actually enjoyed the commercials, even when they played for a long time between the action. And how we walked home with so many stories, things we would keep talking about for weeks until the next big tournament came around.
All of that is long gone now. No one gathers at a neighbor’s house to watch anymore. Even televisions have been left behind lately; only the cinema still brings people together to watch. We don’t like commercials anymore. Even five seconds feels too long. There are no more excited stories that we hold onto for weeks. Every piece of information changes every single minute.
What feels truly lost is the togetherness, the patience, and the gratitude.
There is no more holding hands along the dark roads, with a flashlight as our only helper in the night. There are no more crowds cheering all at once during the World Cup when their team wins. Everyone now is alone, busy with their own world and their own schedules inside the digital screens in their hands.
I see how technology always brings change to our culture, and when something new arrives, there is always something old we have to let go of. Maybe people over thirty or forty years old can still feel it, the place where those memories stay alive today.
But every time the screen in my hand grows too loud, I close my eyes. And I am back on that dark road, holding his hand.
AMAN DI DALAM GELAP
Aku masih mengingatnya dengan jelas: jalanan yang gelap gulita, dan hangatnya gandengan tangan ayahku yang menggenggam tanganku. Tangan itulah yang membuatku tahu aku aman, yang membuatku tahu dunia akan baik-baik saja. Bersama-sama, kami berjalan menuju rumah tetangga untuk menonton kejuaraan tinju dunia, hanya dengan sebuah senter kecil yang menjadi penuntun jalan kami.
Teknologi seperti handphone? Aku hampir belum pernah menyentuhnya saat itu. Aku baru berumur sekitar delapan atau sembilan tahun. Apakah aku tahu tentang tinju saat itu? Tentu saja tidak. Namun hanya dengan mendengar suara dari televisi itu, mataku langsung berbinar seolah itu adalah hal paling keren di dunia.
Yang sangat aku nikmati sebenarnya bukan pertandingan tinjunya, melainkan iklan yang muncul saat jeda pertandingan. Iklan makanan, minuman, dan berbagai hal yang membuatku terpana. Bagiku, itu terlihat seperti dunia yang sepenuhnya berbeda. Sangat canggih.
Bahkan lampu bohlam adalah hal yang canggih untukku, karena banyak masa kecilku tumbuh tanpa listrik. Satu-satunya hal yang sangat aku akrab hanya radio, sebuah kotak kayu kecil yang bisa mengeluarkan suara, entah itu cerita atau lagu. Menurutku itu sudah sangat canggih.
Pada masa itu, banyak orang berkumpul di rumah tetangga yang memiliki televisi untuk menikmati acara khusus: tinju, sepak bola, atau bulu tangkis. Sebagai anak sekecil itu, aku tidak memahami apa yang terjadi dalam pertandingan. Namun memoriku merekamnya. Saat aku bertumbuh besar, aku mengingat dan mulai memahami bagaimana tinju dan olahraga lainnya bekerja, mulai dari aturan hingga bagaimana seseorang menang.
Waktu yang aku habiskan dengan ayahku cukup banyak pada masa itu. Kami masih sering menonton olahraga bersama hingga saat ini, masing-masing memilih jagoan kami sendiri. Untuk tinju, aku akan memilih petarung berdasarkan warna celananya. Untuk sepak bola, kami berdua mendukung tim nasional Indonesia.
Ketika mengingatnya sekarang, semua kenangan itu sangat indah. Bagaimana orang-orang berkumpul dan menonton bersama. Tuan rumah yang berbaik hati membukakan pintu rumahnya untuk kami semua. Orang-orang yang datang dengan penuh semangat, duduk dengan rapi bersama. Bagaimana kami benar-benar menikmati iklan, bahkan ketika diputar cukup lama di sela-sela pertandingan. Dan bagaimana kami berjalan pulang ke rumah dengan membawa banyak cerita, hal-hal yang akan terus kami ceritakan berminggu-minggu hingga kompetisi besar berikutnya tiba.
Semua hal itu telah lama hilang sekarang. Tidak ada lagi orang berkumpul di rumah tetangga untuk menonton. Bahkan televisi belakangan sudah mulai ditinggalkan; hanya bioskop yang masih membuat orang berkumpul untuk menonton. Kita tidak lagi menyukai iklan sekarang. Bahkan lima detik saja terasa terlalu lama. Tidak ada lagi cerita penuh semangat yang kita simpan berminggu-minggu. Setiap informasi berganti setiap menit.
Yang sangat terasa hilang adalah kebersamaan, kesabaran, dan rasa syukur.
Tidak ada lagi gandengan tangan di sepanjang jalan yang gelap, dengan lampu senter sebagai penolong satu-satunya di malam hari. Tidak ada lagi sorak-sorai orang banyak yang bersorak bersamaan saat Piala Dunia ketika tim mereka menang. Semua orang sekarang sendiri, sibuk dengan dunianya sendiri dan kesibukannya masing-masing di dalam layar digital di tangan mereka.
Aku melihat bagaimana teknologi selalu membawa perubahan terhadap budaya kita sendiri, dan ketika sesuatu yang baru datang, selalu ada hal lama yang harus kita lepaskan. Mungkin orang-orang yang berumur di atas tiga puluh atau empat puluh tahun masih bisa merasakannya, tempat di mana kenangan itu tetap hidup hingga saat ini.
Namun setiap kali layar di tanganku terasa terlalu bising, aku memejamkan mata. Dan aku kembali ke jalan gelap itu, menggandeng tangannya.