NYEM PANES — MEDICINE FROM MY MOTHER'S HANDS
Until I was fourteen years old, I never went to a doctor.
Not because we didn't care about health. But because our home already had its own doctor. My mother.
When I had a cough and my throat hurt, she would prepare a mixture with shallots. I didn't know exactly what was in it, but what I remember is the sensation on my skin — cold, cool, like ice touching the hottest part of me. It helped so much when the inflammation came.
When I had a fever, my mother would rub a mixture of shallots and oil across my back. Then she would press dapdap leaves onto my lower stomach, my lower back, and my forehead. My father or mother would also make loloh, an herbal drink from coconut water, certain roots, and leaves. The formula changed depending on what I was feeling inside my body. They read my body, not just my symptoms.
In our home, there were no complicated names for illness. My mother always said there were only two sicknesses — nyem and panes, cold and hot. That simple. No cancer, no diseases with long and unfamiliar names. Just balance being kept, and a body being listened to.
One thing I remember with a smile — I desperately wanted to know what the syrup tasted like, the kind so many people drank when they were sick. It was the color of strawberry syrup, and it smelled sweet. Among all the bitter herbal things my mother made, that syrup looked like a treat. I can't remember when I finally tasted it for the first time. What I do remember is that I was already quite grown up by then.
Today, as I get older, I realize how far I have walked from all of that. In my hands now are capsules, tablets, medicines with names I can't even memorize, let alone understand their contents or functions. And the names of illnesses that once didn't exist in the vocabulary of my life now appear everywhere, complicated and frightening.
But lately I have started opening the old books that our ancestors wrote thousands of years ago. Understanding again what it means to heal. Looking again at the leaves that carry medicine inside them. And once again I find that what the elders did always had reasons that make complete sense.
I no longer see a mother grinding medicine at home. I no longer see a father going out to search for roots and leaves when his child falls sick. No more foreheads pressed with dapdap leaves. We just open a packet and swallow it with water.
This is not about which is better.
It is about the hands and the love that were still connected when a mother made it.
And I wonder — will I ever see or feel that again in the future? Not just the contents of the herbs themselves, but the love that was created alongside the medicine. Love that was ground, blended, and spread by the same hands that once taught me how to walk.
NYEM PANES — OBAT DARI TANGAN IBU
Sampai usia empat belas tahun, aku tidak pernah pergi ke dokter.
Bukan karena kami tidak peduli dengan kesehatan. Tapi karena rumah kami sudah punya dokternya sendiri. Ibuku.
Saat aku batuk dan tenggorokanku sakit, ibu akan menyiapkan campuran dengan bawang merah. Aku tidak tahu persis apa saja yang ada di dalamnya, tapi yang aku ingat adalah sensasinya di kulit — dingin, sejuk, seperti es yang menyentuh bagian yang paling panas. Sangat membantu saat radang mulai datang.
Saat aku demam, ibuku akan membalurkan campuran bawang dan minyak di punggungku. Lalu menempelkan daun dapdap di perut bagian bawah, di punggung bawah, dan di dahiku. Ayah atau ibuku juga akan membuat loloh, minuman herbal dari air kelapa, beberapa akar, dan daun-daun tertentu. Ramuannya berbeda-beda tergantung apa yang aku rasakan di dalam tubuhku. Mereka membaca tubuhku, bukan hanya gejalanya.
Di rumah kami, tidak ada nama penyakit yang rumit. Ibuku selalu mengatakan hanya ada dua penyakit — nyem dan panes, dingin dan panas. Sesederhana itu. Tidak ada kanker, tidak ada penyakit dengan nama yang asing dan panjang. Hanya keseimbangan yang dijaga, dan tubuh yang didengarkan.
Satu hal yang aku ingat dengan lucu — aku sangat ingin tahu bagaimana rasanya sirup yang banyak orang minum saat sakit. Warnanya seperti sirup stroberi, aromanya manis. Di antara semua ramuan pahit yang ibuku buat, sirup itu terlihat seperti hadiah. Aku lupa kapan akhirnya aku merasakannya untuk pertama kali. Yang aku ingat, aku sudah cukup dewasa waktu itu.
Hari ini, saat umurku bertambah, aku menyadari betapa jauh aku telah berjalan dari semua itu. Di tanganku sekarang ada kapsul, tablet, obat-obatan dengan nama yang bahkan tidak bisa aku hafalkan, apalagi kandungan dan fungsinya. Dan nama-nama penyakit yang dulu tidak ada di kamus hidupku kini terdengar di mana-mana, rumit dan menyeramkan.
Tapi belakangan ini aku mulai membuka lagi buku lama yang leluhur tulis ribuan tahun yang lalu. Memahami lagi apa itu sembuh. Melihat lagi daun-daun yang berkhasiat obat. Dan sekali lagi aku menemukan bahwa apa yang para tetua lakukan selalu punya alasan yang sangat masuk akal.
Tidak ada lagi aku lihat ibu yang menumbuk obat di rumah. Tidak ada lagi ayah yang mencari akar dan daun di sekitar rumah saat anaknya sakit. Tidak ada lagi dahi yang ditempel daun dapdap. Kita tinggal membuka bungkus obat dan menelannya dengan air.
Ini bukan tentang mana yang lebih baik.
Ini tentang tangan dan cinta yang masih terhubung saat ibu membuatnya.
Dan aku bertanya-tanya — akankah di masa depan aku bisa melihat atau merasakan itu lagi? Bukan hanya kandungan dari herbal itu sendiri, tapi cinta yang diciptakan bersamaan dengan obat itu. Cinta yang ditumbuk, diramu, dan dioleskan dengan tangan yang sama yang dulu mengajariku berjalan.