Fear of death — that is what I fear, and perhaps many people feel the same way. The fear of losing family and the people we love most is also something I am still learning to carry. But when I look at the tradition of ngaben and study it more deeply, I find myself seeing death in a different way.
Ngaben is a tradition that views death as a liberation worthy of celebration. For many people, death is terrifying and full of grief — but in Bali, you will find that death is celebrated. Life is a gift, and so every part of its journey deserves to be honored. That is the Balinese way: to celebrate every inch of life, from the moment inside the womb to the moment death arrives.
We believe that we borrow this body — that it is made of five elements called panca maha bhuta: earth, water, fire, air, and ether. We are beings formed from nature, and we return to nature. Ngaben is the process of returning those five elements back to where they came from.
If you have ever been to Bali and witnessed a ngaben ceremony, what you would have seen is this: beautiful decorations, the sound of gamelan and joyful music, hundreds or even thousands of people gathering together and walking as one toward the cremation ground. Grief is there, of course — the ache of no longer being able to touch the one you love. But alongside it there is celebration, as though the soul is being escorted with happiness, accompanied by offerings and the fragrant smoke of burning incense. We send the soul into eternity — what we call sunia loka, the realm of stillness — where the soul remembers itself again, in the forever.
Versi Bahasa Indonesia
Ngaben
Ketakutan akan kematian — itulah yang aku takutkan, dan mungkin banyak orang merasakan hal yang sama. Takut kehilangan keluarga dan orang-orang tercinta juga adalah sesuatu yang hingga saat ini masih aku pelajari. Namun ketika aku melihat tradisi ngaben dan belajar lebih dalam, aku mulai melihat kematian dengan cara yang berbeda.
Ngaben adalah sebuah tradisi yang memandang kematian sebagai sebuah pembebasan yang patut dirayakan. Bagi banyak orang, kematian begitu menakutkan dan menyedihkan — namun di Bali, kalian akan menemukan bahwa kematian itu dirayakan. Kehidupan adalah hadiah, maka setiap proses dan perjalanannya pun patut dihormati. Itulah tradisi Bali: merayakan setiap inci kehidupan, mulai dari dalam kandungan hingga saat kematian menjemput.
Kami percaya bahwa kita meminjam tubuh ini — dan meyakini bahwa tubuh ini terbuat dari lima elemen yang disebut panca maha bhuta: tanah, air, api, udara, dan ether. Kita adalah makhluk yang terbentuk dari alam, dan kembali ke alam. Ngaben adalah proses pengembalian kelima elemen itu kembali ke asalnya.
Jika kalian pernah ke Bali dan menyaksikan upacara ngaben, yang akan kalian lihat adalah dekorasi yang indah, suara gamelan dan musik yang meriah, ratusan hingga ribuan orang berkumpul dan bersama-sama berjalan menuju tempat kremasi. Kesedihan tentu ada — rasa sakit karena tak lagi bisa menyentuh orang yang kita cintai. Namun di situ juga ada kemeriahan, seolah sang jiwa diantarkan dengan kebahagiaan, diiringi rangkaian persembahan dan dupa yang menyala harum. Kami mengantar sang jiwa menuju keabadian yang sering kami sebut sunia loka — alam kesunyian — di mana sang jiwa mengingat kembali dirinya dalam keabadian.