Melasti - When the Universe Looks Into Itself

Yuka··5 min read

Last week I came to the beach and saw something that made me stop and sit with my thoughts for a long time.

Hundreds of people walking under the blazing sun — together, kilometer after kilometer — making their way to the shore for the Melasti ceremony. And what stopped me wasn't just the beauty of what I was seeing. It was the smiles on their faces. They were walking far, in heat that pierced the skin, and they were still smiling. Happy. At peace.

That made me think — there is always a happiness that cannot be found in material things. Sometimes the happiness that comes from looking inward, from connecting with your own soul, gives a peace that lasts far longer than anything money can buy.

Melasti is a purification ceremony — a cleansing of bhuana agung and bhuana alit — intended to restore balance between the universe and the human self. That is what I knew from childhood, as a tradition passed down through generations. But when I looked deeper, I found something far more beautiful than ritual alone.

Bhuana agung is the universe. Bhuana alit is the human self. And they are not two separate things — they are the same, in different forms. How we see life depends on how we see ourselves. When nature is out of balance, we must ask — are we also out of balance within?

That is the wisdom our ancestors hid inside every tradition. Not merely ritual, not merely habit — but a path toward knowing who we truly are.

In Bali, I see something different from many other places in the world. A different kind of connection. A different way of seeing life. That it is not always money that brings you peace — but how you balance yourself, how you find the things that can make you happy for longer.

When we perform ceremony, when we prepare our offerings — it is not the grandness of the offering that makes us happy. What smiles is the soul within. It is not what you offer that matters most — but what feeling you bring to the offering.

And that is the wisdom Forage Bali carries.

Not just useful information. Not just the quality of the class we protect. But where we come from when we do all of this — what feeling we bring to every leaf the teachers explain, to every step taken in the forest, to every story shared. If they come to teach with love, the guests will learn with love.

My hope is not a high one. You don't need to go home carrying a million memories.

Just one feeling that grows a little larger — like how you will look at the plate of food in front of you tomorrow morning, and what gratitude chooses to sit beside you at the table.


Versi Bahasa Indonesia

Melasti - Ketika Semesta Bercermin Pada Dirinya Sendiri

Minggu lalu aku datang ke pantai dan melihat sesuatu yang membuatku termenung lama.

Ratusan orang berjalan di bawah terik matahari — berbondong-bondong, berkilometer jauhnya — menuju pantai untuk upacara Melasti. Dan yang membuatku berhenti bukan hanya keindahan visualnya. Tapi senyum di wajah mereka. Mereka berjalan jauh, dalam panas yang menyengat, dan mereka masih tersenyum. Bahagia. Damai.

Itu membuatku berpikir — selalu ada kebahagiaan yang tidak ditemukan di hal-hal material. Kadang kebahagiaan yang lahir dari melihat ke dalam diri, dari terhubung dengan jiwa sendiri, mampu memberikan kedamaian yang jauh lebih langgeng.

Melasti adalah upacara pembersihan — pembersihan bhuana agung dan bhuana alit — yang bertujuan menyeimbangkan alam semesta dan diri manusia. Itu yang aku tahu sejak kecil, sebagai tradisi yang turun-temurun. Namun ketika aku belajar lebih dalam, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih indah dari sekadar ritual.

Bhuana agung adalah semesta. Bhuana alit adalah diri manusia. Dan keduanya bukan sesuatu yang terpisah — mereka adalah bagian yang sama, dalam bentuk yang berbeda. Bagaimana kita melihat kehidupan tergantung pada bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Ketika alam tidak seimbang, kita bertanya — apakah diri kita juga tidak seimbang?

Itulah kebijaksanaan yang leluhur sembunyikan di dalam setiap tradisi. Bukan sekadar ritual, bukan sekadar kebiasaan — tapi jalan untuk mengenal siapa diri kita sesungguhnya.

Di Bali, aku melihat sesuatu yang berbeda dari banyak tempat lain di dunia. Keterhubungan yang berbeda. Cara memandang hidup yang berbeda. Bahwa tidak selalu uang yang membuatmu tenang — tapi bagaimana kamu menyeimbangkan dirimu, bagaimana kamu menemukan hal lain yang bisa membuatmu bahagia lebih lama.

Ketika kami melakukan upacara, ketika kami menyiapkan banten dan persembahan — bukan kemewahan persembahannya yang membuat kami bahagia. Yang tersenyum adalah jiwa di dalam diri. Bukan apa yang kamu persembahkan yang harus kamu perhatikan — tapi rasa apa yang kamu berikan di situ.

Dan itulah wisdom yang Forage Bali miliki.

Bukan hanya informasi yang bermanfaat. Bukan hanya kualitas kelas yang kami jaga. Tapi dari mana asal kami melakukan semua itu — rasa apa yang kami bawa ke setiap daun yang para guru jelaskan, ke setiap langkah di hutan, ke setiap cerita yang dibagikan. Jika mereka datang mengajar dengan cinta, para tamu akan belajar dengan cinta.

Harapanku tidak tinggi. Kalian tidak harus pulang dengan sejuta memori yang harus diingat.

Cukup satu rasa yang bertambah — seperti bagaimana kalian akan melihat piring makanan kalian besok pagi, dan rasa syukur apa yang ikut duduk bersama kalian di meja makan.

Experience It Yourself

Join us in the food forest.

Plan a Private Food Forest Day