LEMBONGAN — PERTAMA KALI MENGINJAK TANAH LAIN
Lebih dari tiga puluh tahun aku hidup di pulau ini. Lahir di sini, tumbuh di sini, mengenal setiap sudutnya dengan cara yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang tidak pernah pergi. Dan kemudian, untuk pertama kalinya, aku menginjak tanah yang berbeda.
Perasaannya asing. Tapi mataku penuh binar.
Lembongan masih bagian dari Bali, tapi dia adalah pulau yang punya kehidupannya sendiri. Dan yang pertama menyambutku adalah laut. Hamparan air yang begitu bening, dengan warna biru yang aku tidak punya kata yang cukup untuk menggambarkannya. Aku yang lahir dan besar di pegunungan, tiba-tiba berdiri di depan semua itu. Aku hanya diam dan mengagumi. Betapa kekayaan semesta ini membentang begitu luas, dan betapa pentingnya kita menjaganya.
Di Lembongan, kehidupan bergantung pada laut dan pada tanah yang berbeda dari tanah yang aku kenal. Tidak ada sawah padi di sini, tidak ada ladang sayuran. Tanahnya berpasir dan kering, jadi yang tumbuh adalah singkong, jagung, dan buah-buahan yang menyukai kekeringan. Dahulu, sebelum pariwisata datang, mereka tidak makan nasi dari beras. Makanan pokoknya adalah singkong, dicacah, dijemur sampai kering, lalu diolah menjadi nasi singkong. Aku mencobanya. Rasanya, menurutku, lebih enak dari nasi beras biasa.
Tapi yang paling membekas adalah seorang ibu yang aku lihat sedang menyiapkan rumput laut. Usianya sekitar lima puluh tahun. Tangannya cekatan mengikat rumput laut ke tali, siap untuk ditanam kembali ke laut. Ada sejuta cerita di wajahnya, dan semangat yang masih menyala meski tubuhnya tidak lagi sekuat dahulu.
Aku berdiri dan memperhatikannya lama. Masyarakat Lembongan memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka, seperti yang selalu dilakukan orang-orang yang hidup dekat dengan alam. Tapi aku juga melihat sesuatu yang mengganjal. Rumput laut mereka dijemur di pinggir jalan. Dedaunan yang terbang ikut bercampur di sana. Mereka butuh tempat pengeringan yang lebih baik, lebih bersih, lebih layak. Sesuatu yang sederhana, tapi belum ada.
Perjalanan kecil itu mengajarkanku sesuatu yang tidak aku duga akan aku bawa pulang.
Bahwa menjadi berguna bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita hasilkan. Tapi seberapa banyak kontribusi kita kepada orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Kadang kontribusi itu sesederhana memperhatikan. Melihat apa yang dibutuhkan. Dan bertanya, apa yang bisa aku lakukan?
LEMBONGAN — THE FIRST TIME I STOOD ON DIFFERENT GROUND
For more than thirty years I lived on this island. Born here, grew up here, came to know every corner of it the way only someone who has never left can know a place. And then, for the first time, I set foot on different ground.
The feeling was strange. But my eyes were full of light.
Lembongan is still part of Bali, but it is an island with its own life. And the first thing that greeted me was the sea. A stretch of water so clear, with a blue so beautiful that I had no words enough to describe it. I, who was born and raised in the mountains, suddenly stood before all of that. I just went quiet and looked. How vast the richness of this world stretches out, and how important it is that we take care of it.
In Lembongan, life depends on the sea and on soil that is nothing like the soil I grew up with. No rice fields here, no vegetable gardens. The ground is sandy and dry, so what grows is cassava, corn, and fruit that loves the dryness. Long before tourism came, the people here did not eat rice from paddy. Their staple was cassava, chopped, dried in the sun, then cooked into what they call nasi singkong. I tried it. To me, it tasted better than ordinary rice.
But what stayed with me most was a woman I saw preparing seaweed. She was around fifty years old. Her hands moved quickly, tying seaweed to a rope, ready to be planted back into the sea. There were a million stories in her face, and a spirit still burning even as her body was no longer as strong as it once was.
I stood and watched her for a long time. The people of Lembongan use what surrounds them, the way people who live close to nature have always done. But I also saw something that troubled me. Their seaweed was being dried by the side of the road. Leaves blown by the wind mixed in with it. They needed a better drying place, something cleaner, something more proper. Something simple, but not yet there.
That small journey taught me something I didn't expect to bring home.
That being useful is not about how much we can produce. It is about how much we can contribute to the people and the environment around us. Sometimes that contribution is as simple as paying attention. Seeing what is needed. And asking, what can I do?