You know the word DURIAN? What's the first thing that comes to mind?
What I want to share is how I spent my childhood during durian season. My friends and I would go to forest of our village,all kinds of fruit trees and plants growing wild together. We'd walk along the riverbank, playing while we waited for a durian to fall from its tree. Along the way we'd pick up whatever fruit we found - salak, mangosteen, so many others that are hard to find in the city now.
And then finally - the sound we'd been waiting for. The rustle of leaves. The thud of durian hitting the ground. We'd race toward it, all of us running at once, and the only thought in my head was get that durian. We'd sharpen our noses, sniffing it out - and yeaaaayyyyy - I jumped down to the edge of the river and lifted up a durian, not a huge one, but the feeling of finding it is something I can't fully describe. I had never felt a victory like that. Triumphant, proud, desperate to get home and eat it.
I was maybe 15. And behind all the hardness of my life, I could still find happiness that honest and that simple. Being together with friends, walking through the little forest, playing in the river, racing for durian - that was the peak of that afternoon. I ran home screaming BIYAAANNGGG - my word for my mother - "Ayu maan duren! Ayu got a durian!"
Wide smile, feet bouncing on tiptoe with joy. My whole body felt it. Durian made time stop for a moment - stop worrying about circumstances, stop carrying responsibilities I didn't even fully understand at that age, stop pretending to be strong all the time. In one simple moment of finding a durian, I had happiness that was completely honest and pure.
Now, whenever I eat durian or even just see one, I still feel that - the happiness, the honest victory. I become little Ayu again, jumping and doing a small happy dance while eating it. Maybe that's why I love durian so much. It turns out it's not the taste. It's the memory living inside it. A feeling that's honest, a happiness that's honest - and it's beautiful because I felt it for myself, not for anyone else.
If you're ever in Bali during durian season, try to feel it through this story. Find a seller who goes out and finds the fruit themselves. Ask them about it - because they often search in the middle of the night, since durian falls more in the darkness. They stay up until morning for just a little extra income. That's what my father does. So when you taste that durian, you're not just tasting the fruit. You're tasting the seller's happiness too - and sharing the same joy they felt when they found it.
Versi Bahasa Indonesia
Raja Kebahagiaan (Durian)
Kamu kenal kata DURIAN? Apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu?
Yang ingin aku ceritakan adalah bagaimana aku menghabiskan masa kecilku saat musim durian. Aku dan teman-temanku pergi ke hutan desa kami — berbagai pohon buah dan tanaman tumbuh liar bersama-sama. Kami berjalan menyusuri tepi sungai, bermain sambil menunggu durian jatuh dari pohonnya. Di sepanjang jalan kami memungut buah apa pun yang kami temukan — salak, manggis, dan banyak lainnya yang kini sulit ditemukan di kota.
Dan kemudian akhirnya — suara yang kami tunggu-tunggu. Gemerisik daun. Bunyi durian menghantam tanah. Kami berlomba menuju ke sana, semua berlari serentak, dan satu-satunya pikiran di kepalaku adalah dapatkan durian itu. Kami tajamkan hidung, mencium-cium mencarinya — dan yeaaaayyy — aku melompat turun ke tepi sungai dan mengangkat sebuah durian, tidak besar, tapi perasaan menemukannya adalah sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya kuungkapkan. Aku belum pernah merasakan kemenangan seperti itu. Bangga, girang, tidak sabar untuk pulang dan memakannya.
Aku mungkin berumur 15 tahun. Dan di balik semua kerasnya hidupku, aku masih bisa menemukan kebahagiaan yang sejujur dan sesederhana itu. Bersama teman-teman, berjalan melewati hutan kecil, bermain di sungai, berlomba berebut durian — itulah puncak sore itu. Aku berlari pulang sambil berteriak BIYAAANNGGG — panggilanku untuk ibuku — "Ayu maan duren! Ayu dapat durian!"
Senyum lebar, kaki berjinjit-jinjit kegirangan. Seluruh tubuhku merasakannya. Durian membuat waktu sejenak berhenti — berhenti mengkhawatirkan keadaan, berhenti memikul tanggung jawab yang bahkan belum sepenuhnya kupahami di usia itu, berhenti berpura-pura kuat setiap saat. Dalam satu momen sederhana menemukan sebuah durian, aku merasakan kebahagiaan yang benar-benar jujur dan murni.
Kini, setiap kali aku makan durian atau bahkan hanya melihatnya, aku masih merasakan itu — kebahagiaan itu, kemenangan yang jujur itu. Aku kembali menjadi Ayu kecil, melompat-lompat dan menari kecil sambil memakannya. Mungkin itulah mengapa aku begitu mencintai durian. Ternyata bukan soal rasanya. Tapi soal kenangan yang hidup di dalamnya. Sebuah perasaan yang jujur, sebuah kebahagiaan yang jujur — dan itu indah karena aku merasakannya untuk diriku sendiri, bukan untuk siapa pun.
Kalau kamu pernah berada di Bali saat musim durian, cobalah rasakan semuanya melalui cerita ini. Cari penjual yang pergi sendiri mencari buahnya. Tanyakan kepada mereka — karena mereka sering mencarinya di tengah malam, sebab durian lebih banyak jatuh dalam kegelapan. Mereka begadang hingga pagi hanya untuk sedikit penghasilan tambahan. Itulah yang ayahku lakukan. Jadi ketika kamu merasakan durian itu, kamu bukan hanya merasakan buahnya. Kamu merasakan kebahagiaan si penjual juga — dan berbagi kegembiraan yang sama seperti yang mereka rasakan saat menemukannya.