Aku masih ingat bagaimana kami menghabiskan hari libur waktu kecil. Tidak ada rencana, tidak ada uang saku. Hanya rasa lapar yang datang pada waktunya, dan hutan pangan yang selalu punya jawaban.
Di desaku, jambu biji adalah buah yang paling mudah ditemukan. Hampir setiap sudut kebun punya pohonnya. Tinggi, bercabang banyak, dan selalu ada buah yang menunggu untuk dipetik.
Aku dan teman-temanku punya kebiasaan yang sederhana. Kami berkeliling membawa bumbu dan pisau dari rumah, lalu pergi mencari buah di hutan pangan sekitar. Bumbu rujaknya sudah siap, cabai, terasi, asam jawa, dan sedikit gula merah. Yang belum ada hanya buahnya. Dan itu yang kami cari bersama.
Jambu biji selalu jadi pilihan pertama. Pohonnya tidak terlalu susah dipanjat, meski beberapa cukup tinggi dengan cabang-cabang yang menjulur ke mana-mana. Kami bergantian memanjat. Aku tidak terlalu jago, tapi cukup untuk menjangkau buah-buah yang tidak terlalu tinggi. Temanku yang lebih berani dan lebih lincah akan naik lebih tinggi, dan kadang dia menikmati buahnya langsung di atas sana, sementara kami menunggu di bawah.
Kami mengumpulkan buah di bawah pohon, memotongnya, mencampurnya dengan bumbu, dan makan bersama di sana. Di bawah pohon. Di bawah langit terbuka. Tanpa meja, tanpa piring, tanpa uang.
Yang aku sadari sekarang adalah betapa banyak yang aku tahu saat itu tentang tumbuhan. Mana yang bisa dimakan, mana yang membuat gatal, mana yang sama sekali tidak boleh disentuh. Aku bahkan tidak ingat kapan aku belajar semua itu. Mungkin karena hal itu sudah menjadi keseharianku, bersama orang tua dan teman-temanku, tanpa terasa seperti pelajaran.
Uang serasa tidak berguna saat itu. Kami berjalan-jalan di hutan pangan, tidak mungkin menemukan penjual makanan di sana. Ketika lapar, kami hanya perlu mencarinya. Dan semuanya terasa cukup. Semuanya terasa aman.
Sekarang, kemanapun aku pergi, ada dua hal yang tidak boleh aku tinggalkan. Dompet dan handphone. Dua benda yang terasa sangat krusial, karena semua transaksi berupa uang, semua kebutuhan ada di balik layar kecil itu.
Saat aku mengingatnya sekarang, aku menyadari seberapa jauh dunia telah berubah. Dan seberapa jauh kita telah berjalan dari sesuatu yang dulu terasa sangat biasa, sangat alami, sangat cukup.
Kadang aku bertanya-tanya di mana teman-temanku yang dulu. Rindukah mereka dengan momen-momen itu? Ingatkah mereka cara memanjat pohon jambu? Ingatkah mereka rasa rujak yang dibuat dan dimakan di bawah pohon, tanpa piring, tanpa meja, tanpa rencana?
GUAVA AND RUJAK UNDER THE TREE
I still remember how we spent our holidays as children. No plans, no pocket money. Just hunger that came when it came, and a food forest that always had an answer.
In my village, guava was the easiest fruit to find. Almost every corner of every garden had a tree. Tall, full of branches, and always carrying fruit that waited to be picked.
My friends and I had a simple habit. We would walk around carrying spices and a knife from home, then go looking for fruit in the food forest nearby. The rujak seasoning was already prepared, chili, shrimp paste, tamarind, and a little palm sugar. The only thing missing was the fruit. And that was what we went to find together.
Guava was always the first choice. The trees weren't too difficult to climb, though some were quite tall with branches spreading in every direction. We took turns climbing. I wasn't very good at it, but good enough to reach the fruit on the lower branches. The friend who was braver and more agile would go higher, and sometimes she would eat her fruit up there while we waited below.
We collected the fruit under the tree, cut it, mixed it with the seasoning, and ate together right there. Under the tree. Under the open sky. No table, no plates, no money.
What I realize now is how much I knew back then about plants. Which ones could be eaten, which ones made your skin itch, which ones you should never touch at all. I don't even remember when I learned any of it. Maybe because it had already become part of my daily life, alongside my parents and my friends, without ever feeling like a lesson.
Money felt useless back then. We were walking through a food forest, there was no food seller to be found anywhere. When we were hungry, we just looked for something. And everything felt like enough. Everything felt safe.
Now, wherever I go, there are two things I cannot leave behind. My wallet and my phone. Two objects that feel absolutely essential, because every transaction requires money, every need lives behind that small screen.
When I think back on it now, I realize how far the world has changed. And how far we have walked from something that once felt so ordinary, so natural, so enough.
Sometimes I wonder where those friends are now. Do they miss those moments? Do they remember how to climb a guava tree? Do they remember the taste of rujak made and eaten under a tree, with no plates, no table, no plan?