Galungan is coming soon, one of the most important holy days for the Balinese.
When I was a child, these were the days I waited for all year. Not just because of the two weeks off from school, but because it meant I would finally get to eat pork. My family's economy wasn't very good back then, so pork wasn't something we enjoyed often. Galungan was one of the few times it came.
Four days before, we would already start preparing everything the ceremony needed. First, ripening the bananas. We would fill a sack with gamal leaves and keep the bananas inside so they would ripen faster.
The next day was for making jajan, traditional sweets. What's unique is that we made the rice flour ourselves, at home. My mother would have me soak the rice, and I would play in that water. Putting my hands in, feeling the texture of the rice slowly soften between my fingers. It was fun. Something so simple, but I still remember it clearly even now.
From that soaked rice, we made jajan kaliadrem, a triangular sweet with three holes in the middle, fried in coconut oil we made ourselves. The mixture was only rice flour, grated coconut, and palm sugar. Simple, and very healthy.
I also helped my mother make canang sari. My fingers were almost always bleeding from playing with the knife, cutting leaves and young coconut fronds. But I never really complained about it. Because that was where I truly felt the celebration. A celebration made from everything we created with our own hands, and then offered.
The smell of incense, people carrying banten on their heads, new traditional clothes, that was the scene I saw every six months. We would go around to the temples, pray, and afterward gather at home, enjoying the fruit and sweets we had offered earlier.
Today, as I write this in a cafe in Ubud, I feel like something is missing.
I'm far from my village now. And many people there no longer make all the offering materials themselves either. They just prepare money, and go to the market.
I see a pattern. It feels like ceremony is becoming just ritual. Something is missing, the feeling of searching, processing, preparing everything with our own hands. The love and sincerity that used to run so deep feels a little more shallow when everything is converted into money.
I understand that times change, and that isn't a bad thing. But if that change comes together with understanding the meaning of the ceremony itself, everything becomes far more valuable. How do we carry the knowledge of tradition and culture in our bodies, not just perform it from the outside.
I want to grind rice into flour again. I want to go looking for ceremony materials in the forest near home again. I want to go to the temple with a full heart again, not just see it as a stage for social validation.
Galungan is the victory of dharma. Our victory in returning to ourselves, and seeing what the essence of life really is.
GALUNGAN — KETIKA TANGAN MASIH MENGINGAT
Sebentar lagi Bali akan menyambut Galungan, salah satu hari raya besar bagi masyarakat Bali.
Dulu, ini adalah hari-hari yang aku tunggu-tunggu. Bukan hanya karena libur sekolah selama dua minggu, tapi karena akhirnya aku bisa menikmati daging babi. Ekonomi keluargaku tidak terlalu baik waktu itu, jadi daging babi bukan sesuatu yang sering kami nikmati. Galungan adalah salah satu dari sedikit waktu itu datang.
Empat hari sebelumnya, kami sudah mulai menyiapkan semua keperluan upacara. Pertama, menyekap pisang agar matang. Kami akan mengisi karung dengan daun gamal, lalu menyimpan pisang di dalamnya supaya cepat masak.
Hari berikutnya, waktunya membuat jajan. Yang unik, kami membuat tepung berasnya sendiri di rumah. Ibuku akan menyuruhku merendam beras, dan aku akan bermain dengan rendaman itu. Memasukkan tangan ke dalam air, merasakan tekstur beras yang perlahan melembut di antara jari-jariku. Itu menyenangkan. Sesuatu yang sederhana, tapi aku masih mengingatnya sampai sekarang.
Dari beras yang sudah direndam itu, kami membuat jajan kaliadrem, jajan berbentuk segitiga dengan tiga lubang di tengahnya, digoreng dalam minyak kelapa yang kami buat sendiri. Campurannya hanya tepung beras, parutan kelapa, dan gula merah. Sederhana, dan sangat sehat.
Aku juga membantu ibu membuat canang sari. Jari-jariku hampir selalu berdarah karena bermain dengan pisau, memotong daun dan janur. Tapi aku tidak pernah benar-benar mengeluh tentang itu. Karena di situlah aku benar-benar merasakan perayaan. Perayaan dari semua yang kami buat dengan tangan kami sendiri, lalu kami persembahkan.
Bau dupa, orang-orang dengan banten di atas kepala, baju adat baru, itu adalah pemandangan yang aku lihat setiap enam bulan sekali. Kami akan berkeliling ke pura-pura, bersembahyang, dan setelah itu berkumpul di rumah sambil menikmati buah dan jajan yang sebelumnya kami persembahkan.
Hari ini, saat aku menulis ini di sebuah kafe di Ubud, aku merasa ada sesuatu yang hilang.
Aku jauh dari desaku sekarang. Dan banyak orang di sana juga tidak lagi membuat semua bahan persembahan sendiri. Mereka cukup menyiapkan uang, lalu pergi ke pasar.
Aku melihat sebuah pola. Rasanya, upacara mulai menjadi sekadar ritual. Ada rasa yang hilang, rasa bagaimana kita mencari, mengolah, menyiapkan langsung dengan tangan kita sendiri. Cinta dan ketulusan yang dulu begitu dalam, terasa sedikit lebih dangkal ketika semuanya dikonversi menjadi uang.
Aku memahami bahwa zaman berubah, dan itu bukan sesuatu yang buruk. Tapi jika perubahan itu dibarengi dengan pemahaman tentang makna upacara itu sendiri, semuanya akan jauh lebih berharga. Bagaimana kita membadankan pengetahuan akan tradisi dan budaya itu sendiri, bukan hanya menjalankannya dari luar.
Aku ingin lagi menumbuk beras menjadi tepung. Ingin lagi pergi mencari bahan-bahan upacara ke hutan dekat rumah. Ingin lagi pergi ke pura dengan perasaan yang penuh, bukan hanya melihatnya sebagai ajang validasi status sosial.
Galungan adalah kemenangan dharma. Kemenangan kita untuk kembali lagi ke dalam diri, dan melihat apa esensi hidup itu sebenarnya.