One day a guest asked me with genuine curiosity — "why do you continue traditions that cost so much money? Doesn't it burden you?"
They had just heard a Balinese mother complaining about the high cost of ceremonies. And the question came from a place of sincere empathy — they felt sad hearing it, and began to believe that this was the true nature of Balinese tradition: expensive, heavy, and exhausting.
I smiled. Because I have been that mother.
There was a time when I was busy ngayah for a ceremony at the temple. I left the preparation of the offerings to my mother. And when I came home, I saw everything she had prepared — simple ingredients, local fruit, ordinary snacks. My heart sank. I was even a little angry. Why only this? What will people think?
Shame rose up inside me. The first thing that came to mind was not gratitude — but the imagined eyes of other people looking at my offering. What should have been born from joy became something embarrassing and burdensome.
For years after that, I chased validation. I bought imported fruit that was quite expensive. There was a desire to show what I could afford. A need to appear sufficient, to appear worthy, to look the same as the people around me. Following social trends I never truly chose with awareness.
And what did I feel afterward? Only tired. Only empty.
Funny, isn't it — how you buy everything, offer it up, and then you are also the one who eats it afterward. So why does it feel so exhausting? When I took off that social mask and came home, I would count what money remained. I would start to regret it. Even when eating the offerings afterward, everything tasted bland and heavy.
Slowly I began to learn. And I discovered that everything I had been doing all along came from ego — the ego of validation I wanted to receive. A feeling of not being enough that I covered by buying expensive things. An emptiness I tried to fill with the approval of others.
Then I returned to the sacred texts. And there I found something that had been waiting for me to read it with different eyes.
In the Bhagavad Gita it is written — if you have no fruit, give me flowers. If you have no flowers, give me fire. If you have no fire, give me water. And if you have nothing at all — give me love. Because it is your sincerity and your love that I truly wish to see and receive.
God does not demand. God receives the love within the offering.
From that moment, I began to ask myself before preparing anything — for whom am I doing this? If the answer is for other people, to appear worthy, to receive validation — there will be a long war within. Expectation will always bring disappointment. Always.
But if the answer is for myself, within the capacity I have, with the sincerity I feel — there is nothing to regret.
Now I offer according to what I am able. As far as I am genuinely happy to give. More local fruit, not because it is cheaper — but because I have learned to feel enough with what surrounds me. And my feeling has changed. I appreciate everything so much more. A simple offering feels far lighter and far more alive than any expensive offering I ever brought with a heart full of ego.
That is what I told my guest. And slowly they understood — everything depends on how we choose to see it. If you look at life as a burden, everything will feel heavy. But if you see life as a blessing and a beauty — you will feel it that way.
Tradition does not exist to make life difficult. Tradition exists to reconnect us — to our ancestors, to nature, to the deepest part of ourselves.
Because in truth — every offering is for yourself.
Versi Bahasa Indonesia
Untuk Siapa Persembahan Itu?
Suatu hari seorang tamuku bertanya dengan penuh rasa ingin tahu — "kenapa kamu tetap melanjutkan tradisi yang menghabiskan banyak uang? Bukankah itu membebanimu?"
Mereka baru saja mendengar seorang ibu Bali mengeluh tentang mahalnya biaya upacara. Dan pertanyaan itu lahir dari rasa empati yang tulus — mereka sedih mendengarnya, dan mereka mulai berpikir bahwa itulah sesungguhnya tradisi di Bali: mahal, berat, dan melelahkan.
Aku tersenyum. Karena aku pernah ada di posisi ibu itu.
Ada satu masa ketika aku sibuk ngayah untuk upacara di pura. Aku menyerahkan urusan sarana upacara kepada ibuku. Dan saat aku pulang, aku melihat semua yang disiapkannya — bahan-bahan yang sederhana, buah lokal, jajanan biasa. Hati kecilku kecewa. Bahkan sedikit marah. Kenapa hanya ini? Bagaimana kata orang?
Rasa malu menyeruak. Yang pertama terlintas bukan rasa syukur — tapi bayangan mata orang lain yang akan melihat persembahanku. Persembahan yang seharusnya lahir dari kegembiraan, berubah menjadi beban yang memalukan.
Bertahun-tahun setelah itu, aku mengejar validasi. Membeli buah impor yang harganya cukup mahal. Ada rasa ingin menunjukkan apa yang bisa aku beli. Ada keinginan untuk terlihat cukup, terlihat pantas, terlihat sama dengan orang-orang di sekitarku. Mengikuti tren sosial yang tidak pernah benar-benar aku pilih dengan sadar.
Dan yang aku rasakan setelahnya? Hanya lelah. Hanya kosong.
Lucu, bukan — bagaimana kamu membeli semuanya, mempersembahkannya, dan kamu juga yang menikmatinya setelahnya. Tapi kenapa terasa begitu melelahkan? Saat topeng sosial itu aku tanggalkan dan aku pulang ke rumah, aku mulai menghitung berapa uang yang tersisa. Mulai menyesalinya. Bahkan saat memakan persembahan itu, rasanya hambar dan berat.
Perlahan aku belajar. Dan aku menemukan bahwa semua yang aku lakukan selama ini lahir dari ego — ego validasi yang ingin aku dapatkan. Sebuah rasa tidak cukup yang aku tutupi dengan membeli hal-hal mahal. Sebuah kekosongan yang aku isi dengan pengakuan orang lain.
Lalu aku kembali ke buku suci. Dan di sana aku menemukan sesuatu yang sudah lama menungguku untuk membacanya dengan mata yang berbeda.
Dalam Bhagavad Gita dikatakan — jika kamu tak punya buah, beri aku bunga. Jika kamu tak punya bunga, beri aku api. Jika kamu tak punya api, beri aku air. Dan jika kamu tak punya apapun — berikan aku cinta. Karena ketulusan dan cintamulah yang sesungguhnya ingin aku lihat dan terima.
Tuhan tidak meminta. Tuhan menerima cinta dari persembahan itu.
Sejak saat itu, aku mulai bertanya pada diriku sendiri sebelum menyiapkan apapun — untuk siapa aku melakukan ini? Jika jawabannya adalah untuk orang lain, untuk terlihat pantas, untuk mendapat validasi — di sana akan ada peperangan batin yang panjang. Ekspektasi akan membawa kekecewaan. Selalu.
Tapi jika jawabannya adalah untuk diriku sendiri, dengan kemampuan yang aku miliki, dengan ketulusan yang aku rasakan — di sana tidak ada yang perlu disesali.
Sekarang aku mempersembahkan sesuai kemampuanku. Sebatas mana aku bahagia melakukannya. Lebih banyak buah lokal, bukan karena murah — tapi karena aku belajar merasa cukup dengan apa yang ada di sekitarku. Dan rasaku berubah. Aku jauh lebih menghargai semuanya. Persembahan yang sederhana terasa jauh lebih ringan dan jauh lebih hidup dari persembahan mahal yang pernah aku bawa dengan hati yang penuh ego.
Itulah yang aku katakan pada tamuku. Dan perlahan mereka mengerti — semua tergantung dari mana kita melihatnya. Jika hidup kamu lihat sebagai beban, semuanya akan terasa berat. Tapi jika kamu melihat hidup sebagai berkah dan keindahan — kamu akan merasakan hidup seperti itu.
Tradisi tidak hadir untuk menyusahkan. Tradisi hadir untuk menyambung kembali — kepada leluhur, kepada alam, kepada diri kita yang paling dalam.
Karena sejatinya — semua persembahan itu adalah untuk dirimu sendiri.