There was one season I always waited for as a child. Not a holiday, not a festival. Dragonfly season.
When the rains came and the rice fields began to flood, the dragonflies would appear as if called by the water. Thousands of them, resting on small branches, flying low over the puddles, filling the afternoon air with the soft sound of wings. And that was the signal for us, the children, that the hunt could begin.
The preparation required no shop. No money. All we needed was one thing, a jackfruit tree.
From the tree we took its sap, a sticky resin we called engket. We coated the tip of a thin stick with it, then tied the stick to a long piece of wood. Our tool was ready. Handmade, from what the nature around us offered freely.
Then we set off, a small gang of children with sticky-tipped weapons, heading toward the rice fields and gardens surrounding our village. The first step was always to observe. Stay still, look around, find the area where the dragonflies gathered most. Patience was everything here.
When the target was spotted, a dragonfly resting quietly on the tip of a branch as if taking an afternoon nap, the real hunt began. We walked slowly, very slowly. Breath held. Steps made silent. The sticky stick moved closer and closer toward the dragonfly, and snap, caught.
We did this again and again until our bamboo string was full of dragonflies.
The happiness of catching a dragonfly is a feeling that has been gone from me for a long time. A happiness that simple, and the path to it was wide open in nature, with no price to pay, no one to ask permission from.
We came home with our catch, and my mother was already waiting. She would turn them into pepes, mixed with tlengis, the leftover pulp from coconut oil-making, Balinese spices, and bay leaves. The wings removed one by one, all the ingredients combined and rolled tightly inside a banana leaf. It could be grilled or steamed. Simple, but the taste was like victory eaten together with family.
I learned something from those hunts. That surviving can be deeply enjoyable. I hunted with joy, came home with the same feeling, and ate what I caught with a heart full of happiness. Nothing felt like a burden. Everything felt like an adventure.
But now I sit here writing this, and the question arrives on its own.
If surviving could be that simple and that joyful, why does working today, which is also how we survive, so often bring an exhaustion that doesn't just touch the body, but reaches all the way into the soul?
Can we find our way back to feeding ourselves with a joyful heart, like a child hunting dragonflies at the edge of a rice field, fully present, happy in the process, and coming home with an honest feeling of enough?
Versi Bahasa Indonesia
Ngejuk Capung
Ada satu musim yang selalu aku tunggu-tunggu waktu kecil. Bukan hari raya, bukan tahun baru. Tapi musim capung.
Saat musim hujan tiba dan sawah mulai tergenang, capung-capung itu muncul seolah dipanggil oleh air. Ribuan dari mereka, hinggap di dahan-dahan kecil, terbang rendah di atas genangan, mengisi udara sore dengan kepak sayap yang hampir tak terdengar. Dan itu adalah tanda bagi kami, anak-anak, bahwa perburuan bisa dimulai.
Persiapannya tidak butuh toko. Tidak butuh uang. Yang kami butuhkan hanya satu, pohon nangka.
Dari pohon itu kami ambil getahnya, karet lengket yang kami sebut engket. Kami lumurkan di ujung lidi, lalu ikat lidi itu ke kayu panjang. Alat kami sudah siap. Buatan sendiri, dari apa yang alam sediakan di sekitar kami.
Lalu kami berangkat, gerombolan anak-anak dengan senjata lidi bergetah, menuju sawah dan kebun-kebun di sekitar desa. Langkah pertama adalah mengamati. Diam, perhatikan sekitar, cari daerah di mana capung paling banyak berkumpul. Di sini kesabaran adalah segalanya.
Saat target terlihat, capung yang hinggap tenang di ujung dahan seolah sedang tidur siang, perburuan sesungguhnya dimulai. Kami berjalan perlahan, sangat perlahan. Napas ditahan. Langkah dibuat senyap. Lidi bergetah didekatkan pelan-pelan ke arah capung, dan happ, tertangkap.
Itu terus kami lakukan sampai tali bambu kami penuh dengan capung.
Rasa bahagia mendapatkan capung adalah rasa yang sudah lama hilang dalam diriku. Kebahagiaan yang sesederhana itu, dan aksesnya terbuka bebas di alam, tanpa perlu membayar apapun, tanpa perlu meminta izin siapapun.
Pulang dengan hasil buruan, ibuku sudah menunggu. Capung-capung itu akan diolahnya menjadi pepes, dicampur dengan tlengis, sisa ampas dari pembuatan minyak kelapa, bumbu Bali, dan daun salam. Sayap-sayapnya dilepas satu per satu, semua bahan dicampur dan digulung rapat dalam daun pisang. Bisa dibakar, bisa dikukus. Sederhana, tapi rasanya seperti rasa kemenangan yang dimakan bersama keluarga.
Aku belajar sesuatu dari perburuan itu. Bahwa bertahan hidup bisa sangat menyenangkan. Aku berburu dengan suka cita, pulang dengan rasa yang sama, dan makan hasil tangkapan dengan hati yang penuh kegembiraan. Tidak ada yang terasa seperti beban. Semuanya terasa seperti petualangan.
Tapi sekarang aku duduk dan menulis ini, dan pertanyaan itu datang dengan sendirinya.
Jika bertahan hidup bisa sesederhana dan semenyenangkan itu, kenapa di zaman sekarang bekerja, yang juga adalah cara kita bertahan hidup, begitu sering membawa kelelahan yang tidak hanya menyentuh tubuh, tapi juga jauh ke dalam jiwa?
Bisakah kita kembali mencari makan dengan hati yang gembira, seperti anak kecil yang berburu capung di tepi sawah, hadir sepenuhnya, bahagia dalam prosesnya, dan pulang dengan rasa cukup yang jujur?