THE ESSENCE OF LOVE (How My Mother’s Coconut Oil Built Our Palace)
One morning, while walking through the traditional market, I noticed a middle-aged woman selling lengis tandusan, traditional coconut oil. In an instant, my mind drifted back in time. My mother had been a coconut oil maker and vendor since before I was even born.
When I was little, I remember watching her walk around the village, buying coconuts from our neighbors. She would carry ten to fifteen heavy coconuts stacked right on top of her head in a single trip. I, a tiny child, would follow closely behind her footsteps. Once we reached home, she would crack the coconuts open one by one. I would sit right beside her with a face full of hope, waiting for the tombong—the sweet, spongy coconut apple that grows inside older fruits. Not every coconut had one, which made waiting for each crack of the shell so suspenseful. Whenever a small, sweet tombong appeared, my heart would burst with pure joy.
The next step was nyeluh, separating the white flesh from the hard outer shell. It required real skill; one wrong move could easily slash your hands. Of course, my mother did it flawlessly. But the heaviest part of the work was grating it all by hand. She used a manual grader made from a specially pierced sheet of aluminum, an ancient tool we call pengikihan. There were no machines. It took her four to five exhausting hours just to finish those ten to fifteen coconuts. Quite often, I would catch her nodding off to sleep for a brief moment in the middle of grating. As a child, I didn't truly understand the crushing weight of the labor my mother was carrying.
Afterward, the grated coconut was squeezed by hand to draw out the milk, which was then boiled for hours over a crackling wood fire. She would carefully skim the golden oil using a ladle carved from a coconut shell. It required great precision to separate the pure oil from the leftover boiling liquid beneath, known as roroban. The remaining residue would form tlengis, a rich, savory paste. The very next morning, my mother would walk all the way to the market to sell her oil and tlengis. She did this every single day without a single day off, except for the major holy days in Bali.
I watched my mother fight like this until I grew up into an adult, and only then did I fully understand. She did all of this just to give us a simple shelter, so we would no longer have to live under the roofs of our relatives. Every drop of her sweat, every drop of oil, and the searing heat she endured by the fire were paid off when we were finally able to buy a small plot of land and build a home, brick by brick.
My mother’s body is frail now, filled with constant pain in every joint of her back and hips. But her sacrifice is permanently etched into the very structure of the house we live in—a simple home, yet one built on decades of fierce struggle.
Ibu, every single drop of your sweat became the stones and the cement. The drops of oil you made became the land we stand on and the livestock that live in our yard today. The deep aches across your body are the living proof of your sleepless, restless fight to give us a safe space to rest. How could I ever call us poor, or look at this house as broken, when I know that every single joint of this home was shaped by the relentless hard work of your hands? Those hands that are now wrinkled and no longer as strong as they used to be.
I learned everything from her: sacrifice, hard work, and an incredibly fierce will to survive. This memory serves as my ultimate anchor whenever I catch myself complaining about my own life, because my challenges are nothing compared to the war she fought for us. Thank you so much, Ibu, for fighting and giving your entire life for us, ensuring we never got caught in the rain, and making sure we were always well-fed.
I bore witness to it all: how the slow drops of coconut oil and the absolute devotion of a mother built our own simple palace of love.
MANCING LENGIS TANDUSAN (Bagaimana Minyak Kelapa Ibuku Membangun Istana Kami)
Saat suatu pagi aku ke pasar tradisional, aku melihat ibu-ibu paruh baya menjual lengis tandusan, atau minyak kelapa asli. Seketika itu juga, ingatanku terbang ke masa lalu. Ibuku adalah seorang perajin dan pedagang minyak kelapa, bahkan sejak sebelum aku lahir.
Aku masih mengingatnya saat aku kecil, ibuku akan berjalan berkeliling membeli kelapa dari tetangga dan membawanya di atas kepala—sepuluh sampai lima belas butir kelapa sekaligus dalam sekali jalan. Aku kecil akan mengikutinya dari belakang. Setelah sampai di rumah, beliau akan membuka satu per satu buah kelapa itu. Aku akan menunggu di sampingnya dengan wajah penuh harap untuk mendapat tombong, atau buah bulat manis yang muncul saat kelapa bertambah tua. Tidak semua kelapa terisi tombong, dan hal itulah yang membuatku menunggu penuh harap pada setiap belahan kelapa yang dibuka ibuku. Rasa gembira langsung meluap saat ada tombong kecil yang sangat manis muncul.
Tahap selanjutnya adalah nyeluh, yaitu memisahkan daging kelapa dari batok atau kulit kelapa yang keras. Dibutuhkan keahlian yang cukup bagus untuk melakukan itu, karena jika tidak, alatnya bisa melukai tanganmu. Tentu saja ibuku melakukannya dengan sangat baik. Namun, bagian terberatnya adalah saat ibuku harus memarutnya secara manual dengan parutan yang terbuat dari kaleng aluminium yang dibuat secara khusus, sebuah alat parut tanpa mesin yang disebut pengikihan. Ibuku membutuhkan waktu empat sampai lima jam hanya untuk menyelesaikan sepuluh sampai belas butir kelapa itu. Sering kali aku melihatnya tertidur di sela-sela beliau memarut. Aku kecil belum mengerti seberapa berat beban pekerjaan yang dikerjakan ibuku.
Lalu, parutan kelapa diproses dengan tangan menjadi santan hingga santan itu dididihkan menjadi minyak. Proses itu membutuhkan waktu berjam-jam, dan ibuku menggunakan kayu bakar untuk memanaskannya. Minyak akan disaring perlahan menggunakan wadah yang terbuat dari batok kelapa. Ibu harus sangat hati-hati dan memerlukan keahlian untuk memisahkan minyak dari sisa air perebusan yang disebut roroban. Sisa rebusan tersebut kemudian akan menyisakan tlengis, atau ampas padat yang gurih. Besok paginya, ibuku akan berjalan kaki ke pasar untuk menjual minyak dan tlengis tersebut. Beliau melakukan itu tanpa libur seharipun, kecuali saat hari raya besar di Bali.
Begitulah aku melihat ibuku berjuang hingga aku akhirnya tumbuh besar dan dewasa, sampai aku benar-benar memahami bahwa Ibu melakukan semua itu untuk memberi kami tempat berteduh yang sederhana, sehingga kami tidak lagi harus menumpang di rumah sanak keluarga untuk berteduh. Tetesan keringat, tetesan minyak, dan rasa panas yang beliau rasakan di depan tungku terbayar saat kami akhirnya mampu membeli lahan dan membangun rumah sedikit demi sedikit.
Tubuh ibuku kini sudah renta, penuh rasa sakit di setiap sendi punggung dan pinggangnya. Namun, perjuangan beliau terpatri nyata di rumah yang kami tinggali sekarang—rumah sederhana yang dibangun dari perjuangan penuh selama puluhan tahun.
Bu, setiap tetesan keringatmu telah menjelma menjadi batu dan semen. Tetesan minyak yang kamu buat menjadi tanah tempat kami berpijak dan ternak yang hari ini hidup di dalam rumah kita. Rasa sakit di sekujur tubuhmu adalah tanda perjuanganmu tanpa tidur dan istirahat demi menyediakan ruang teduh untuk kami. Bagaimana mungkin aku mampu menyebut kita miskin, atau menganggap rumah itu buruk, saat aku tahu bahwa setiap sendi dari rumah itu ada kerja keras dari tanganmu? Tangan yang hari ini telah keriput dan tidak lagi sekuat dulu.
Aku belajar banyak darinya: tentang pengorbanan, kerja keras, dan daya juang untuk hidup yang luar biasa tinggi. Kisah ini selalu menjadi pengingat terbaikku setiap kali aku mengeluhkan hidupku, karena aku bukan apa-apa dibanding perjuangan beliau. Terima kasih banyak telah berjuang dan menyerahkan seluruh hidupmu untuk kami, memastikan kami tidak kehujanan, dan memastikan kami bisa makan dengan baik.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana tetesan minyak dan pengorbanan seorang ibu menjelma menjadi istana sederhana yang penuh dengan cinta.