THE BANYAN TREE AND THE SECRET BEHIND THE POLENG CLOTH
When I was small, there was one thing that always made me quicken my steps when dusk began to fall. The banyan tree.
The tree was wrapped in poleng cloth, a black and white checkered fabric. And from childhood, my father, my mother, and the people around me always said the same thing — inside that tree lived a large and terrifying creature. So every time the sun began to go down, we would hurry home before night fully arrived.
Most of the big trees stood at the pura and at the setra, the village cemetery. They were made sacred with offerings and canang, which made the mystical atmosphere feel even stronger. And then there were the stories from people who claimed to have seen something up in the branches. During the day, the tree was a comfortable place to take shelter from the heat. At night, it was the place most people avoided.
I grew up carrying that belief, full of fear. And even though I knew many of those stories were just superstition, the fear was still there every time I passed one at night.
For decades I lived inside that belief. Until finally, exhaustion from following traditions I didn't understand brought me to many questions. Including about the large trees that Balinese people hold sacred.
There are three kinds of trees we honor most — beringin, pule, and kepuh. All three are found at temples, markets, cemeteries, and village squares. Almost all of them are wrapped in poleng cloth and given canang offerings. The question I had carried for so long finally surfaced: what is the real meaning of that cloth? Why only certain trees?
Until I found the answer.
Poleng cloth is not just cloth. Its black and white carries a philosophy that runs very deep — rua bineda, the duality of life. That life always moves in pairs, like black and white, joy and sorrow, laughter and tears, peace and anger. Not to choose one over the other. Because that is not the choice. The answer is how we sit balanced between them.
And the trees given that cloth are a species called ficus, trees that produce oxygen for twenty-four hours a day, with roots strong enough to absorb and store water. When I discovered that, something inside me began to shift. I started to understand something I had never imagined before.
The elders were extraordinary. They thought carefully about how to protect these trees for the sake of the generations that would come after them. The poleng cloth and the canang sari were symbols of gratitude, for clean air, for water kept safe inside the earth, for shade from the heat, and for soil held firm by the roots beneath.
I stood in quiet wonder thinking about how remarkably the ancestors lived in harmony with nature. They did not feel entitled to nature. They felt themselves to be part of it, where every living thing had the right to exist.
Today's generation may be far more advanced in terms of innovation and discovery. But something feels missing, the wisdom of seeing nature not as a commodity, but as part of the community itself.
And I don't blame the elders for delivering that message through fear. If they hadn't, people would have easily destroyed nature. Which would mean destroying themselves. That fear was their way of protecting something precious.
Now, every time I pass that banyan tree, I no longer quicken my steps. I stop for a moment instead. Not because the fear has completely gone, but because I know now what is truly being protected there. And the respect that comes from understanding runs so much deeper than the respect that comes from fear.
POHON BERINGIN DAN RAHASIA DI BALIK KAIN POLENG
Waktu kecil, ada satu hal yang selalu membuatku mempercepat langkah saat senja mulai datang. Pohon beringin.
Pohon itu dililit kain poleng, kain kotak-kotak berwarna hitam dan putih. Dan dari kecil, ayah, ibu, dan orang-orang di sekitarku selalu mengatakan hal yang sama — di pohon itu tinggal makhluk besar yang menyeramkan. Jadi setiap kali matahari mulai turun, kami akan segera pulang sebelum malam benar-benar tiba.
Pohon-pohon besar itu kebanyakan ada di pura dan di setra, tempat pemakaman. Mereka disucikan dengan sesajen dan canang, yang membuat aura mistik semakin terasa. Belum lagi cerita dari beberapa orang yang mengaku pernah melihat sesuatu di atas sana. Siang hari, pohon itu adalah tempat yang nyaman untuk berteduh. Malam hari, pohon itu adalah tempat yang paling dihindari.
Aku tumbuh dengan keyakinan yang penuh ketakutan itu. Dan meski aku tahu banyak dari cerita itu hanya takhayul, rasa takut tetap ada setiap kali aku melewatinya saat malam.
Puluhan tahun aku berada dalam kepercayaan itu. Hingga akhirnya rasa lelah akan tradisi yang aku jalani tanpa tahu maknanya membawaku pada banyak pertanyaan. Termasuk tentang pohon-pohon besar yang orang Bali sakralkan.
Ada tiga jenis pohon yang paling kami hormati — beringin, pule, dan kepuh. Ketiganya sering ditemui di pura, pasar, pemakaman, dan lapangan. Hampir semua diberi kain poleng dan dihaturkan canang. Pertanyaan yang lama tersimpan akhirnya muncul: apa sebenarnya makna dari kain itu? Kenapa hanya pohon-pohon tertentu yang diperlakukan seperti ini?
Hingga aku menemukan jawabannya.
Kain poleng bukan sekadar kain. Hitam dan putihnya menyimpan filosofi yang dalam — rua bineda, dualitas kehidupan. Bahwa hidup selalu berdampingan, seperti hitam dan putih, senang dan sedih, tawa dan tangisan, damai dan marah. Bukan untuk memilih salah satunya. Karena itu bukan pilihan. Melainkan bagaimana kita duduk seimbang di antaranya.
Dan pohon-pohon yang diberi kain itu adalah jenis pohon ficus, pohon yang memproduksi oksigen selama 24 jam, dengan akar yang kokoh untuk menyerap dan menyimpan air. Saat aku menemukan itu, sesuatu di dalam diriku mulai bergeser. Aku mulai memahami sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Para tetua dulu begitu jenius. Mereka memikirkan bagaimana cara menjaga pohon-pohon itu demi keberlangsungan anak cucunya kelak. Kain poleng dan canang sari adalah simbol rasa terima kasih, untuk udara yang bersih, air yang tetap tersimpan di dalam tanah, tempat berteduh saat panas, dan tanah yang tetap kokoh oleh karena akar yang menancap dalam.
Aku tertegun memikirkan betapa luar biasanya leluhur dulu hidup dalam keselarasan dengan alam. Mereka tidak merasa berhak atas alam. Mereka merasa menjadi bagian dari alam itu sendiri, di mana setiap makhluk punya hak untuk hidup.
Generasi sekarang mungkin jauh lebih pintar dalam hal inovasi dan penemuan. Tapi ada sesuatu yang terasa hilang — kebijaksanaan dalam melihat alam bukan sebagai komoditi, tapi sebagai bagian dari komuniti kita sendiri.
Dan aku tidak menyalahkan para tetua yang dulu menyampaikan pesan itu lewat rasa takut. Jika tidak dilakukan seperti itu, orang-orang akan mudah merusak alam. Yang berarti merusak diri sendiri. Rasa takut itu adalah cara mereka melindungi sesuatu yang sangat berharga.
Sekarang, setiap kali aku melewati pohon beringin itu, aku tidak lagi mempercepat langkah. Aku justru berhenti sejenak. Bukan karena rasa takutnya hilang sepenuhnya, tapi karena aku tahu sekarang apa yang sesungguhnya dijaga di sana. Dan rasa hormat yang lahir dari pemahaman terasa jauh lebih dalam dari rasa hormat yang lahir dari ketakutan.